Surabayapostkota.net - Besarnya THR akan diperoleh tidak sesuai harapan, hal ini yang menjadi pemicu puluhan karyawan PT WOM melakukan aksi menuntut THR seperti yang telah dijanjikan, Senin (11/6) Desa Klatakan, Kecamatan Kendit.
Awalnya mereka hanya berkumpul di luar pintu gerbang, sebelum akhirnya secara serentak masuk ke halaman.
Keluhan beberapa karyawan disampaikan pada tim hampir sama yaitu besar THR diinginkan satu kali gaji (satu juta) namun pihak manejemen berdasarkan kondisi perusahaan sekarang hanya dapat menyanggupi Rp. 500 ribu tambah bingkisan, semua menolak kebijakan tersebut.
"Maunya teman - teman satu kali gaji. Sesuai perjanjian. Tetapi perusahaan hanya bisa memberi Rp. 500 ribu plus bingkisan," kata salah satu pekerja enggan disebut namanya.
Sementara hasil musyawarah antara manajemen dengan karyawan yang dimediasi oleh Dinas Tenaga Kerja, akhirnya muncul wacana baru yaltu perusahaan menawarkan besar THR Rp. 560 ribu rata tanpa bingkisan.
Meski dengan sedikit tarik ulur antara sesama karyawan pada akhirnya disepakati jumlah itu. Dan mereka juga menginginkan tidak ada penekanan setelah terjadinya kemufakatan bersama.
"Gimana apa mau THR Rp. 560 ribu rata tanpa bingkisan tapi kita masih bisa tetap bekerja, " kata perwakilan tenaga kerja yang ikut berunding bersama manajemen perusahaan.
Harsono selaku manajer saat dikonfirmasi mengelak adanya tekanan terhadap tenaga kerja. Semua pekerja yang menyampaikan aspirasi ditampung, diterima dengan baik. Kecuali bila tidak prosedural dalam bekerja terlebih melanggar hukum.
"Semoga hari rabu kita bisa memenuhi THR para karyawan, " harap Harsono.
Adapun Opek anak bangsa dari lembaga Lawapes Situbondo ketika diminta tanggapan terkait persoalan THR mengatakan, itukan sudah Hak mereka selaku Buruh. Kalau sudah tidak bisa ajak baik-baik, lebih baik laporkan saja ke Dinas Ketenagakerjaan Jawa Timur.
"Bicara tentang THR, kasihan nasib buruh. Jangan sampai diabaikan. Apapun alasannya. Karena itu hak mereka. Terlebih bagi yang sudah lama mengabdikan diri (masa kerja lama). Dan ini hal wajar. " ujar Aktivis berpawakan kecil ini. Bersambung Eps 1.
(Red/Tim)
